Daniels “Lemoe” Stephanus

This blog is my diary …Just for my way to express my opinion…..Just my garbage can ……..

MAHA KARYA RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA, SEBUAH PENGANTAR.

Pendahuluan

Tulisan ini ditujukan untuk mengenal salah satu Pujangga Besar di Tanah Jawa ini, Raden Ngabehi Ranggawarsita, seseorang yang dengan karyanya dapat member warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat dan komunitas Jawa serta orang-orang Jawa yang masih mau menjadi Jawa.  Tulisan ini akan sedikit membahas siapa, apa karyanya, apa pemikian (filosofi) yang beliau ingin sampaikan, dan nilai-nilai apa yang ingin beliau sampikan pada kita.  Tulisan ini disadur , disarikan, diadaptasi dan diterjemahkan dari 2 (dua) tulisan yang ditulis di Majalah Panjebar Semangat, No 14 dan 15, 14 dan 21 Juni 2008.  Banyak kekurangan, kelengkapan karya, pemaknaan dan berbagai kekurangan lain yang ada dalam tulisan ini, hal ini dikarenakan keterbatasan saya mengenai Sang Pujangga Besar Tanah Jawa, semoga sedikit memberikan cahaya bagi pembaca.  Pengayaan bacaan dan sumber sebaiknya dilakukan oleh siapapun pembaca yang tertarik untuk belajar dan ngangsu kawruh mengenai nilai-nilai dan filosofi Jawa, khususnya yang untuk karya-karya Sang Pujangga.

 

Riwayat Hidup

Raden Ngabehi Ranggawarsita

Lahir pada 10 Dulkaidah 1728 atau 15 Maret 1802.

Nama kecilnya adalah Bagus Burhan.

Meninggal pada 5 Dulkaidah 1802 atau 24 Desember 1873.

Di makamkan di Dusun Dalar, Desa Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Gelar yang disandang oleh beliau adalah Abdi Dalem Kaliwon Nem Kadipaten Anom Pujangga ing Kraton Surakarta Hadiningrat.

Karya-karya beliau mencapai lebih dari 60 karya.

Thema-thema karya beliau meliputi (1) pengetahuan bahasa dan sastra, (2) dongeng, (3)roman klasik, (4) kesenian, (5) cerita pewayangan, (6) ramalan, (7) filsafat, dan lain-lainnya.

 

Mahakarya

1.       Kitab Sabdajati

Berupa tembang macapat megatruh (sapupuh), terdiri dari 19 pada.

Berisi nasehat2 untuk :

Berlaku baik untuk menuju keselamatan, berhati2  dan tidak berbuat salah, melakukan kesalahan akan menjadi tempat (sarang) iblis.

Memintalah (berdoa) dengan sungguh pada Illahi, karena akan terjadi jaman binggung (pakewuh).  Jaman yang membinggungkan, kesengsaraan dan keributan, tiap orang mencari benarnya sendiri, dan tidak ada kesetiaan. (setan mono nggawa kendhi isi dhuwit emas).

 

2.       Kitab Kalatida

Tembang Sinom (sapupuh), 12 pada.  Negara yang sepi dengan tata Negara yang ruwet, tidak ada teladan yang baik dan meninggalkan sifat2 terpuji.  Pra cendikiawan terseret ombak katatida, kehidupan menjadi susah.  Banyak orang baik tetapi tidak memapu mencegah kalabendu, malah semakin ruwet.

Jaman edan, melu edan ora tahan, yen ora nglakoni edan ora kebagian wusana keluwen.  Keadilaning Gusti Allah, sak beja-bejane wong kang lali iso beja wong kang eling lan waspada.   

 

3.       Kitab Sabdapranawa

Tembang Dandang Gula, 12 pada.  

Jaman Edan, merupakan kehendak Gusti, jaman dengan kwkawatiran, jaman dengan aturan yang acak2an, hidup menjadi sangat susah.

Kurangilah nafsu jahat, memikirkan y ang baik, mengayomi sesame dan memerangi kejahatan, hendaknya berterus terang untuk menciptakan kebaikan bersama.

Munculnya aji mumpung, korupsi dan keserakahan merajalela, sulit berbuat baik (ewuh aya in tyase), lupa pada keutamaan (llimut ing kautaman), kejahatan dimana2, sifat kurang menjadi2 (watak candhala andadhra), kehilangan ketentraman (sirna tentreming ati), banyak ratap tangis (wong udarasa manggung).

Waspadalah, karena akan berganti dengan jaman baik (taun windu kuning, tekane wewe kuning, ageman tebu wulung kanggo mateni wedhon, sing ilere mbebayani banget).  Selanjutnya akan muncul jaman baik (jaman becik) karena kekuasaan Hyang Maha Mulya.  Datangnya wahyu, kebaikan, dan keselamatan, menuju kemakmuran bersama (rayayu harja mulya).

 

4.       Kitab Sabdatama

Tembang Gambuh (sapupuh), 22 pada.

Pada jaman kalabendu manusia hendaknya pandai2 mengelolah nafsu supaya tidak berbuat jahat dan maksiat. Menjaga hati, mengayomi sesame dan mencegah kejahatan.  Aturan semakin banyak dibuat tetapi keserakahan menjadi2.  Kebingungan dan ratap tangis dimana2 (njugrugake gunung ora ana sing ngalang2i).

Gambaran dalam warna kuning, merah,d an biru.  Taun windu kuning, ana wewe putih, nyekel gaman tebu wulung nedya ngrangsang pocongan.  Datangnya Wahyu tidak dapat dicegah, keselamatan akan datang.  Para cerdik pandai bersatu hati menghadapai bahaya dan berani bertindak untuk kebaikan.

 

5.       Kitab Jaka Lodang

Tembang Macapat (3 pupuh -  Gambuh, Sinom, Megatruh).

Berisi ramalan Ranggawarsitan:

1)      Pupuh Gambuh

Mulai tahun 1850 Saka (1919 Masehi) dan setelahnya.

Gunung meletus, tanah longsor dan lain2nya.

2)      Pupuh Sinom

Mulaih tahun 1860 Saka (1929 Masehi)

Kejadian2 yang selalu berlawanan.

Kehendak baik selalu gagal, penguasa berlaku korup, dan orang pandai menjadi bodoh dan mempu.

3)      Pupuh Megatruh

Suatu saat nanti.

Orang ngantuk menemukan harta benda dan kebaikan ada dimana2.

 

6.       Citra Prabu Watu Gunung

Dalam kitab Pustakakara Jupurwa, Raden Watugunung menjadi Raja di Giligwesi dan menikahi ibunya sendiri (Basundari atau Sinta).

 

Catatan-Catatan

1)      Kalabendu

Jaman dalam Kitab Jangka Jayabaya

Kalabendu (1701—1800 )Sadana, Lodra, Jayta

Kalasuba (1801—1900) Wibawa, Saeka, Santosa

Kalasumbaga (1901—2000) Hendana, Karetna

Kaladrata (2001—2100) Darmana, Watara, Iseka.

Kalabendu Ranggawarsitan:

Waluyane benjang yen wus ana wiku, memuji  ngesthi sawiji, sabuk lebulir majenun, gali bedan tudang-tuding, ana cahken sakehing wong  (Jaman yang menyedihkan akan kembali menjadi baik dan tenteram jika para alim ulama kembali mengumandangkan puji2an dan pemikiran yang baik).

 

2)      Taun WIndu Kuning

Datangnya wewe putih, membawa senjata tebu wulung untuk mengalahkan pocongan.

 

3)      Kethuk isi duwit mas

Jaman Kalabendu akan lewat dan berganti dengan jaman Kalasuba.

Jaman yang membahagiakan, orang menganggur saja kaya raya.

 

Anjuran dan Ajaran

Ing Jaman edan, wong dadi binggung. Melu edan ati ora tekan, ora melu edan ora kebagian, wusana keluwen.  Nangging sabegja-begjane wong lali, luwih begja wong kang eling lan waspada.

Ajaran dan pertanda yang masih berguna sampai saat ini dan perlu perenungan lebih dalam lagi untuk menemukan mutiara2 terpendam lainnya.

Bank Niaga, Bank Lippo dan Bank Internasional Indonesia milik satu pemilik, Malayan Bank Malaysia

Ternyata bukan hanya batik yang akan diakui oleh Malaysia, bukan hanya reog yang akan diakui sebagai kesenian Malaysia, tetapi bank-bank yang ada di Indonesia yang bermasalah sejak 1998 bukan hanya akan diambil alih oleh Malaysia tetapi sudah diambil alih dan akan digabung sehingga menjadi satu bank besar yang kuat di Indonesia.  Malaysia semakin hari semakin merajalela dalam “menjajah”  Indonesia, bukan hanya tenaga kerja kita yang diperkerjakan mulai dari pembantu rumah tangga (TKW), buruh bangunan, tenaga kerja perkebunana, dan berbagai pekerjaan kasar lainnya.  Malaysia juga telah merampok hutan Indonesia dengan mendirikan berpuluh perusahaan perkayuan yang berskala besar di Kalimantan.  Malaysia juga telah menjadi penguasa perkebunan kelapa sawit di Kalimantan dan Sumatera.  Tidak sampai di situ saja Malaysia berusaha merebut budaya luhur bangsa seperti batik dan reog.  Bahkan sekarang perbankan kitapun bukan hanya akan dikuasai tetapi sudah dikuasai.  Bank Niaga, Bank Lippo, dan Bank Internasional Indonesia telah benar-benar dimiliki oleh Malaysia melalui Malayan Bank.  Bangsa kita semakin dikuasai kalau tidak mau dikatakan dijajah oleh Malaysia.

 

Akuisis yang dilakukan Malayan Banking bhd atau Maybank Malaysia, memungkinkan terjadinya merger antara BII, Bank Niaga, dan Bank Lippo yang telah dimiliki sebelumnya.  Berdasakan peraturan Bank Indonesia No. 8/16/2006 tentang kepemilikan tunggal pada perbankan Indonesia (Single Presence Policy/SPP) tidak diperkenankan satu pihak memiliki lebih dari satu bank di Indonesia.   Penelusuran dilakukan sampai pada pemegang saham tertinggi (ultimate shareholder).

PT. Bank Niaga dan PT. Bank Lippo telah dikendalikan oleh Khazanah Berhard perusahaan investasi milik Pemerintah Malaysia.  Sedangkan BII dikuasai oleh Maybank  yang secara tidak langsung juga dimiliki oleh Pemerintah Malaysia.  Sehingga PT Bank Niaga, PT. Bank Lippo, dan BII secara langsung maupun tidak langsung telah dimiliki oleh satu pemilik yaout Pemerintah Malaysia.

 

Saat ini Khasanah telah mengkaji kelayakan merger antara Bank Niaga dan Bank Lippo dan telah disetujui MoU merger pada 02 Juli 2008 kemarin.  Kedua bank tersebut dibeli sebelum adanya SPP, sedangkan BII dibeli setelah aturan SPP disahkan, sehingga Maybank harus melakukan merger dengan membentuk perusahaan induk.  Bila terlaksana merger ketiga bank swasta tersebut, peta persaingan perbankan akan bergeser.  Karena total asset ketiga bank tersebut akan mencapai Rp145,95 Trlyun dan akan mendekati asset BNI senilai Rp.173,5 Trilyun.

BII dibeli Maybank daru Temasek Holding, perusahaan investasi dari Singapura.  Temasek memperoleh untung besar, karena saat membeli BII hanya diperoleh dengan harga Rp1 Trilyun dari BPPN tetapi saat ini dibeli oleh Maybank senilai Rp10 Trilyun untuk 42% sahan BII.  Sedangkan untuk mengakuisisi BII, Maybank menyiapkan dana sebesar $2,7 Milyar atau sekitar Rp24,5 Trilyun guna memperoleh 100% saham BII.

 

May bank membeli BII dengan nilai 4,5 price to book value (terbesar di RI dan bahkan di Asia) dengan alasan tertarik melihat penetrasi industry perbankan di Indonesia, sehingga potensi pertumbuhan terbuka dalam jangka panjang, sesuai penuturan dari Acting CEO Maybank, Aminuddin MD Desa.  Strategi  mentranformasi investasi pada pasar yang bertumbuh adalah strategi memperluas jangkauan operasional ke kawasan regional.  BII dibeli dengan mahal karena adanya pertimbangan potensi sinergi bisnis antar sector dan antar wilayah.  Selain itu karena investor Malaysia banyak menanam investasi pada sector perbankan.  Ditambah juga dengan masalah harga diri, persaingan investasi dengan singapura.  Posisi keuangan Malaysia kuat karena Malaysia merupakan pusat keuangan Syariah Global (80% instrument keuangan syariah ada di Malaysia).  Malaysia siap dengan infrastruktur, institusi, produk, dan peraturan syariah sehingga diburu oleh investor dari Timur Tengah.  Investasi Syariah hanya boleh untuk investasi riil, sehingga Malaysia mengincar pasar Indonesia.

KRISIS KEUANGAN GLOBAL 1

Ancaman Krisis Global

Diawali oleh krisis karena kredit perumahan macet (subprime mortgage) di AS.  The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat berusaha mencegah krisis yang lebih jauh.  Untuk mencegah krisis The Fed melakukan pemotongan suku bunga, paket stimulus ekonomi senilai USD 163 Milyar, dan injeksi likuiditas yang mencapai USD 700 Milyar.

Tetapi krisis semakin meluas sampai menyentuh ke system perbankan dan sector keuangan, bahkan seluruh sector ekonomi.  Bukan hanya di Amerika Serikat  tetapi bahkan ke seluruh dunia.  Amerika Serikat mengalami  Financial Meltdown, hengkangnya investor, dan aksi rush (walau telah diinjeksi USD 200 milyar dengan fasilitas term action)  untuk menyelamatkan investasi Bear Stearns dan akuisisi dengan JP Morgan.  Pada dasarnya, institusi financial Amerika Serikat seperti zombie, masih beroperasi tetapi pada dasarnya telah mati.

Investasi pasar modal untuk mencegah anjloknya harga saham, suku bunga dipotong bahkan pada saat hari minggu, injeksi likuiditas pada perbankan, tetapi masih kurang karena outstanding subprime mortgage mecapai USD11 milyar.

 

Krisis Amerika Serikat menjadi Krisis Global, system financial global terancam mengalami kegagalan.  Dampak dari krisis di AS memengaruhi perbankan dan lembaga investasi Negara lain.  The Fed menyediakan tambahan likuiditas USD30 Milyar untuk mendukung akuisisi Bear Stearns dan JP Morgan Chase.  Hal ini dilakukan untuk mencegah krisis kepercayaan pada lembaga keuangan USA.

Sebagai pembanding, krisis long-term capital management (LTCM) – hedge fund pada tahun 1998 yang diikuti dengan ambruknya beberapa lembaga keuangan di AS menyebabkan The Fed untuk melakukan bailout.  Potensi kredit macet Bear  Stearns adalah sebesar USD900 Milyar atau 7x (tujuh kali lipat) dari LTCM dan pastinya akan memicu krisis yang lebih besar lagi.  Belum lagi deficit transaksi di AS mencapai 8%, rasio utang (PDB) 330%, rasio utang rumah tangga 100%, dan utang kartu kredit sebesar USD790 Milyar.  Sejak krisis yang terjadi per Juli 2007, harga saham global telah mengalami penurunan sebesar 10%, kerugian akumulatif sebesar USD5 Trilyun, dan krisis likuiditas pada seluruh system financial.

 

Bom Waktu Derivatif

Pertumbuhan derivative di pasar modal pada tahun2 terakhir membawa ancaman terjadinya krisis.  Catatan dari The Sovereign Society menyatakan bahwa transaksi derivative adalah penyebab resesi pada tahun 2001 dan 2008 ini di Wall street.  Juga sebagai penyebab krisis di Asia pada tahun 1997/1998.

 

Derivatif adalah instrument keuangan untuk mengurangi risiko  karena pergerakan harga, tetapi malah menjadi instrument spekulasi bagi investor.  Di AS transaksi derivative pada tahun 2007 mencapai USD516 trilyun.  Padahal PDB di AS hanya sebesar USD15 Trilyun dan PDB Global hanya mencapai USD50 Trilyun, dan kapitalis pasar modal sedunia hanya USD100 Trilyun.

 

Hipotek kepemilikan rumah (subprime mortgage) merupakan salah satu instrument derivative.  KPR diberikan pada orang2 yang secara financial tidak layak menerima kredit.  Hipoteknya oleh Bank dijadikan jaminan sekuritas (mortgage backed securities) yang diperdagangkan di pasar sebagai instrument investasi.  Investor tidak tahu kalau yang dijadikan jaminan buruk dan akan macet apsa suatu saat.

Bank Investasi memanfaatkan jasa pemeringkat sekuritas untuk memperoleh kepercayaan masyarakat, walau sampah bisa dapat AAA.  Bagaimana mungkin terjadi di AS yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan good governance.  Jangan2 karena mafia perbankan yang memiliki koneksi kuat dengan The Fed atau Pemerintah AS.

 

Mengapa subprime mortgage berkembang pesat:

1.       Dari sisi konsumen menguntungkan karena mereka yang tidak layak memperoleh kredit dapat memperoleh kredit (KPR).

2.       Bagi bank, mendapatkan fee dari penerbitan sekuritas berbasis subprime mortgage dan marjin sebesar selisih suku bunga kredit yang dibebankan oleh KPR.

3.       Para dealer dan broker sekuritasnya mendapat keuntungan dari menjual sekuritas berbabasis mortgage ke investor dan komisi  penjaminan.

4.       Investor dapat mendiversivikasikan mortgage untuk portofolio investasi.

5.       Bagi perekonomian akan memperluas pendanaan KPR menciptakan sumber pendanaan baru bagi bank dan lembaga keuangan lainnya serta mendorong integritas modal dan pasar uang.

6.       Bagi pemerintah, menciptakan bubble untuk mempertahankan booming ekonomi yang berasal dari bubble yang lain.  Contoh bubble dari real estate di AS sengaja diciptakan untuk menutup krisis karena bubble industry dot.com pada tahun 2001 (Allan Greenspan, Mantan Direktur The Fed).

7.       Secara politis, likuiditas dan suku bunga rendah adalah tanda ekonomi suatu rezim bagus sehingga dengan sengaja diciptakan kondisi ini.

8.       Booming ekonomi menarik dana asing sehingga dapat dipergunakan untuk menutup deficit anggaran Pemerintah AS.

 

Saat ini subprime mortgage mencapai USD600 Milyar dan tentu saja derivatifnya akan jauh lebih besar.  Kondisi ini akan mengancam 6 juta keluarga yang akan kehilangan rumah (mortgage).  Krisis keuangan yang terjadi di AS akan mengancam pada ekonomi secara global.  Kerugian subprime mortgage yang telah mencapai USD300 Milyar dan akan menyentuh USD1 Trilyun, akankah ditutup oleh The Fed?.

 

Subprime mortgage

Subprime mortgage 73% diberikan pada kaum kulit hitam dan hispanik sedangkan 17% saja diberikan pada kulit putih.  Saat ini 65% penduduk AS merosot kekayaannya dan bahkan sebagian besar terancam kehilangan rumahnya.  Hal ini terjadi karena financial rulling class yang tetap dan bahkan bertambah makmur.  The Fed malah mengucurkan likuiditas (soft money) untuk menggelembungkan perekonomian.  Hal ini akan mengakibatkan kebangkrutan missal.

Paket stimulus berupa kucuran dana sebesar USD168 Milyar (per 13 Februari 2008) hanya menguntungkan sekelompok orang kaya saja.  Kondisi ekonomi memburuk tetapi Presiden As, George Bush malah haus perang, bahkan menyatakan bahwa perang bagus bagi perekonomian (wawancara pada Today Show) “karena banyak perlengkapan perang diproduksi, berarti banyak lapangan pekerjaan”.  Padahal ongkos perang di Irak diperkirakan pada awalnya “hanya” USD50—60 Milyar, telah membengkak menjadi USD845 Milyar pada saat ini, bahkan Prof Stiglitz memperkirakan biaya perang telah mencapai USD3 Trilyun.

Biaya perang tersebut belum dihitung dengan biaya2 perang dari negara2 lainh dan terutama Irak yang negaranya hancur berantakan.  Perang Dunia ke II saja hanya menghabiskan USD5 Trilyun.  Belum lagi AS masih harus menanggung biaya perawatan untuk veteran perang dan penggantian alat2 perang.  Sebagai catatan, biaya perang di Irak untuk 4 hari saja dapat dipergunakan untuk melakukan riset autis selama 1 tahun atau member beasiswa bagi 43 juta mahasiswa dari masuk kuliah sampai menjadi sarjana di Amerika sana.

Cara Pemerintah AS dan The Fed untuk mengelabui kondisi perekonomian yang ambruk ini adalah dengan kucuran likuiditas, regulasi yang longgar terhadap penyaluran kredit, dan suku bunga rendah.  Bahkan saat ini, Utang AS pada luar negeri telah mencapai USD9 Trilyun.  Perang Irak dan Afganistan telah menguras asset Amerika Serikat senilai USD16 Milyar perbulan.

 

 

Indonesia dalam Mengahadi Krisis Global

Krisis keuangan yang terjadi pada saat ini kurang bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, begitu penuturan Joachim Von Amsberg, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, seperti yang dimuat pada Kompas 26 Maret 2008.

Krisis keuangan global mengakibatkan harga minyak mentah turun sebagai akibat dari turunnya permintaan minyak oleh negara2 maju.  Sedangkan harga komoditas meningkat tajam di pasar dunia.  Kondisi mengakibatkan inflasi harga kebutuhan pangan (sebesar 10,2%) yang memukul masyarakat miskin.  Selain itu kesenjangan ekonomi antar daerah menjadi semakin melebar karena ketidakmerataan kepemilikan SDA.

Kelambanan Pemerintah Indonesia mengantisipasi gejolak krisis global, Pemerintah memang melakukan subsisdi untuk rakyat miskin tetapi tidak menyentuh masyarakat miskin.  Peningkatan pendapatan dari komoditas (CPO dan sawit serta hasil tambang) tidak digunakan untuk membiayai sector strategis seperti pertanian dan infra strktur, di lain pihak sector tambang dan migas menurunkan produksinya.

 

Sepertinya Indonesia belum siap menghadapi krisis global, seperti yang dikemukakan oleh Prof. Steve H. Hank dari Johns Hopkins University – USA.  Salah satu indikasinya adalah penetapan inflasi yang tidak realistis.  Ekspekstasi inflasi tidak dalam kondisi terkendali (5%).  Kenyataannya inflasi terus melaju.

Indonesia diharapkan tidak mengikuti kebijakan The Fed USA dengan memangkas suku bunga.  Bank Indonesia seharusnya berfokus pada penguatan nilai rupiah, sedangkan di AS The Fed menurunkan bunga dan menginjeksi likuiditas karena naiknya permintaan pasar.

Peningkatan ekononmi karena naiknya dorongan moneter atau yang lazim disebut bubble economic tidak akan bertahan lama akan berdampak jauh lebih buruk lagi.

 

 

Potensi Agribisnis Indonesia: Sebuah Peluang Untuk Menjadi Pemain Dunia

Investasi dilakukan untuk memperoleh keuntungan.  Bila suatu investasi pada suatu bidang kurang atau bahkan tidak menguntungkan, maka investasi tersebut dapat ditarik dan dipindahkan ke bidang yang lain. 

Bagaimana dengan agroindustri? Apakah menguntungkan? Apakah dapat menjadi primoadona investasi?  Agribisnis bukan lagi bisnis kumuh dan bisa menghasilkan profit yang cukup signifikan.

 

Prospek Agribisnis:

1.       Kebutuhan pangan yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

2.       Teknologi biofuel sebagai pengganti BBM.

3.       Mengurangi dampak climate change.

Perlu kesamaan visi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat luas.

Tugas Pemerintah adalah mengurangi risiko usaha dan menjadikan agribisnis sebagai ajang investasi yang menguntungkan.

 

Saat ini agribisnis belum mendapat tempat seperti industry lain.  Agribisnis masih identik dengan petani dan permasalahannya seperti harga pupuk dan obat yang mahal dan rendahnya harga jual hasil produksi sehingga menenggelamkan petani pada kemiskinan yang lebih parah lagi.

Di negara2 maju seperti Australia, Jepang, Jerman, dan AS pertanian selalu dikembangkan untuk mencapai swasembada bahkan menjadi eksportir bahan pangan.

 

Biofuel Sebagai Bahan Bakar Nabati

Bahan bakar yang dibuat dari tanaman merupakan pengganti bahan bakar minyak dari fosil.  Bahan bakar  dari tanaman merupakan lahan bisnis baru, bahkan pertamina pada saat ini telah memasarkan biofuel di 265 SPBUnya.  PLN-pun telah mulai beralihke biofuel untuk pembangkit tenaga listriknya, saat ini telah mencapai 95 Megawatt.

Tujuan dari pengembangan biofuel adalah:

·         Mencari bahan bakar pengganti BBM,

·         Memperbaiki lingkungan,

·         Mengamankan pasokan energi.

Daerah pengembangan adalah NTT dan NTB untuk jarak pagar dan Jawa dan Lampung untuk singkong mukibat.

 

Kebutuhan untuk pengembangan bahan bakar dari tanaman ini adalah investor yang peduli lingkungan dan peduli terhadap pengembangan komunitas (community development) untuk ekonomi berbabis pertanian yang siap menampung seluruh hasil petani dengan harga yang adil.

 

Edukasi Bagi Petani dan Pemerintah Daerah

Diajak untuk berfikir komersial menuju peningkatan ketahanan pangan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi jangka panjang dan aspek lingkungan sekaligus.  Dilakukan untuk mencapai kesejahteraan petani dan mengatasi masalah kemiskinan sembari berfikir untuk menjaga kelestarian lingkungan.  Menuju Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan hijau-lestari.

Ketahanan pangan harus dicapai untuk menghindari perangkap impor bahan pangan.  Harga2 kebutuhan pokok melambung hari ke sehari, hal ini terjadi karena kesalahan Pemerintah dalam menangani masalah ketahanan pangan.  Karena Pemerintah hanya mengacu pada penanganan jangka pendek, berupa impor bahan pangan.  Kondisi ini menyebabkan Indonesia terjebak pada ketergantungan yang sengaja diciptakan oleh negara2 eksportir bahan pangan.  Sebagai contoh adalah ketergantungan  pada kedelai impor dari Amerika.

Pada tahun 1984 Indonesia mencapai swasembada kedelai dengan lahan seluas 1,6juta hektar lahan dan produksi 1,8 juta ton pertahun.  Saat ini Indonesia hanya memiliki 0,362 juta hektar lahan dan hanya berproduksi sebanyak 0,7 ton.  Tekanan kebutuhan lahan untuk usaha non pertanian menyebabkan berkurangnya luasan lahan  pertanian.

Selain itu, permainan pedagang komoditas Internasional perlu dicermati sehingga Indonesia tidak semakin terjerat pada impor bahan makanan.  Dengan penduduk 210—220 juta,  Indonesia adalah pasar potensial untuk bahan makanan (Laporan dari Time Financial).  Perusahaan2 multi-nasional komoditas pertanian telah dan sedang membangun jaringan dan lobi sampai di tingkat diplomasi internasional untuk membuat jerat impor.  Kiat2 yang dibuaat oleh pebisnis adalah jal biasa yang luar biasa adalah tanggapan dari pejabat dan diplomat Indonesia yang bernegosiasi.  Mereka mengambil keputusan yang merugikan rakyat Indonesia secara keseluruhan (seperti yang dikemukakan oleh mantan Dirjen Peternakan, Sofjan Sudardjati).

 

Sinyal Kebangkitan Pertanian

Walau diterpa berbagai kesulitasn dan permasalahan, kinerja pertanian Indonesia mengalami kemajuan.  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan pertanian mencapai 6,5% pada tahun 2007, sedangkan pada sector2 lain mengalami pertumbuhan yang relative kecil. Rinciannya, produksi padi naik 4,76%, produksi jagung naik 14,5%, investasi pertanian PMDN naik 56,155 dan PMA naik 48,67%.  Kontribusi kenaikan sector pertanian pada perekonomian nasional sebesar 1,3% sedangkan sector industry hanya 1,2% untuk tahun 2007 dan diharapkan akan meningkat pada tahun 2008.

Resensi Buku: The Corporation by Joel Bakan

 

Kapitalisme menglobal dan telah melwati batas2 negara, ditandai dengan bermunculannya korporasi2 bisnis dengan skala global.

Korporasi pertama kali berkembang pada akhir abad ke 19, atau kurang lebih 150 tahun yang lalu.  Berbeda dengan partnertship atau kongsi yang menekankan pada kesetiaan pribadi dalam berusaha bersama, korporasi memisahkan antara pemilik (owner) dengan pengelola (management) atau yang lebih dikenal dalam dunia bisnis sebagai teori agensi (agency theory).  Kondisi ini memicu banyaknya korupsi (moral hazard) dari manajemen untuk memperkaya diri sendiri dan bukannya memperkaya pemilik.  Disertai dengan berbagai skandal seperti rekayasa laporan keuangan dan laporan kinerja.

Adam Smith dalam buku Wealth of Nations, menyatakan bahwa manajemen tidak dapat dipercaya untuk mengelolah uang karena sembrono, boros, dan mementingkan dirinya sendiri (morald hazard) sehingga perlu diawasi. Pada dasarnya, Korporasi adalah alat untuk mengeruk keuntungan dan menimbun kekayaan tanpa batasan hukum dan moral dalam mengeksploitasi sumber daya (moral, manusia, dan alam).

Korporasi adalah patologi dalam perekonomian yang mampu mengendalikan segalanya, termasuk World Trade Organization (WTO) sebagai lembaga pengelolah perdagangan global.  WTO telah berubah dari penjaga moral perdagangan global menjadi antek korporasi global.  Terlihat pada kebijakan dan keputusannya yang selalu memihak pada kepentingan korporasi global. Joseph Stiglitz (Peraih Nobel Bidang Ekonomi dari USA) menyatakan bahawa menteri2 perdagangan anggota WTO sangat terkait dengan kepentingan perdagangan dan keuangan negara2 industri maju.

Korporasi hanya:

  1. Mengedepankan kepentingan sendiri daripada aspek lingkungannya,
  2. Menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan,
  3. Berhubungan erat dengan penguasa2 politik,
  4. Manajemen mampu berkelit dalam mengatasi masalah hukum,
  5. Pemegang saham terbatasi oleh perlindungan bagi investor, dan
  6. Penguasa politik memanfaatkan korporasi sebagai sumber keuangan pribadi.

Protokol Kyoto pada tahun 1998 versus Climate Change Coalition

Kepentingan untuk mencegah global warming and climate change berhadapan dengan korporasi2 global dengan dana ratusan juta dollar untuk melawan Protokol Kyoto tersebut.  Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu bentuk tanggung jawab korporasi pada lingkungan sekitar tidak terlalu banyak digubris.  Moralisme baru korporasi untuk mengatasi masalah sosial dan lingkungan hidup patut dipertanyakan.  Korporasi berkampanye untuk menutupi kesalahan dan kejahatannya memalui media iklan cukup efektif untuk meredam gelombang protes.  Sebagai wahana untuk mengeruk keuntungan sebesar2nya, masalah eksploitasi tidaklah mungkin tidak dilakukan, karena korporasi adalah mesin pencetak uang dan bukan kumpulan pekerja sosial.

CSR yang diberikan oleh korporasi (1-2% dari keuntungan di Indonesia) sangatlah terlalu kecil bila dibandingan dengan kerusakan akibat eksploitasi yang dilakukan dalam rangka mengeruk keuntungan.  Tetapi dengan CSR dan iklan yang gencar, masalah eksploitasi SDM dan SDA dapat diredam dengan baik dan sangat baik bahkan.

Selamanya, korporasi didirikan dan dijalankan untuk memperkaya pemilik (pemegang saham), meningkatkan laba dari tahun ketahun demi pencapaian kinerja manajemen tanpa perlu mengindahkan aturan hukum dan moral.  Eksploitasi SDM dan SDA adalah pekerjaan sehari2 korporasi.

Sekarang yang perlu kita buktikan, apakah mahasiswa UMC akan menjadi pengusaha eksploitator seperti yang ditulis oleh buku tersebut? Ataukah akan menjadi pengusaha yang benar2 bermoral dan beretika dalam berusaha, sehingga akan memikirkan manusia dan lingkungannya sebelum mencari keuntungan?  Semoga kita menjadi orang2 sukses yang dalam mencari keuntungan selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu.

PEOPLE & PLANET BEFORE PROFIT!?!

Selamat belajar menjadi orang2 sukses …..

Mudik, Tradisi Tahunan Nan Asyik

Mudik adalah fenomena tahunan yang tidak banyak terjadi di muka bumi ini. Hanya beberapa tempat saja di dunia ini yang memiliki tradisi mudi atau pulang ke rumah untuk merayakan hari raya (apapun) bersama keluarga di kota asal (keluarga besar). Indonesia punya tradisi mudik saat Iedul Fitri atau Lebaran. Ratusan ribu bahkan berjuta orang rela berdesakan di atas kendaraan umum, macet di jalan raya, atau fenomena terkahir adalah bermotor bersama. Walau badan sakit dan capeek bahkan tak kurang meregang nyawa karena mudik tetapi tetap saja berjuta orang mudik setiap tahunnya. Bukan hanya tenaga tetapi juga tabungan akan terkuras habis hanya untuk memperingati ritual tahunan ini.
Seperti tahun2 yang lalu, sayapun ikutan mudik walau tidak ikut merayakan lebaran tetapi untuk bersilahturohim dengan keluarga besar yang merayakannya. Bukan hanya capek dan kehilangan sebagian tabungan yang menjadi perhatian saya, tetapi ada fenomena menarik yang terjadi pada mudik tahun ini.
Mudik tahun ini di jalanan dan bahkan di seputaran rumah berbeda dari tahun2 sebelumnya, bukan karena suasana yang berbeda tetapi karena raungan motor dan asap mobil yang mengudara. Mudik tahun ini jalanan serasa ramai oleh sepeda motor yang berseliweran dan jumlah mobil yang serasa berlipat kali banyaknya di jalanan. Macet sudahlah biasa tetapi tidak separah tahun ini, berita di televisi dan koran mendukung analisis kecil saya ini. Bahkan terminal serasa sepi untuk perjalan jarak jauh walau stasiun masih dijejali pemudik. Sepertinya fenomena mudik dengan mengendarai kendaraan pribadi baik mobil terlebih motor telah menjadi moda transportasi terkini. Alasan macet dan praktis menjadi pembenar tetapi sepertinya ajang pamer diri lebih mendominasi. Apapun juga mudik masih menjadi tradisi yang asyik.
Akibat bawaan lain dari mudik adalah berputarnya roda ekonomi di kota2 kecil dan di daerah menjadi seuatu yang perlu diperhatikan. Banyak uang orang2 kota besar yang dibawa pulang dan di belanjakan di kota asal dan di desa, sehingga walau perekonomian dunia yang lagi berantakan dan Amerika meregang karena krisis, sesaat Indonesia serasa tidak ada masalah apapun dengan ekonominya. Semoga ini bukan menjadi fenomena sesaat, semoga setelah lebaran berlalupun roda ekonomi (daerah) terus berputar dan bergerak sehingga menjadi roka perekonomian Indonesia berputar dengan kencang.
Sepertinya mudik merupakan budaya asyik yang harus dilestaarikan, bukan untuk sesaat tetapi untuk berkelanjutan. Semangat persaudaraan, semangat menempuh perjalanan jauh, berputarnya roda ekonomi daerah dan berbagai dampak bawaan lain sepertinya harus tetap terjaga.
Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1429H.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Pemimpin yang Pantas

Pemimpin yang Pantas

Pemilihan Presiden 2009 sudah di ambang pintu. Semua yang erkepentingan sudah geared ke arah 2009. Dan pekerjaan lain, termasuk mengurus rakyat, harus menunggu. Selain itu, di mana-mana sedang berlangsung pilkada. Pada masa lalu, rakyat sering salah pilih. Ini amat merisaukan. Kelihatannya lembaga-lembaga tinggi negara tidak lagi peka terhadap penderitaan rakyat. Jumlah pengangguran semakin membengkak, harga barang-barang pokok untuk kehidupan sehari-hari sudah melambung dan mencekik, ditambah lagi biaya pendidikan bagi anak-anak mereka, biaya pemeliharaan kesehatan dan harga obat-obatan. DPR bukan lagi wakil rakyat. Mereka adalah wakil partai, sedangkan kehidupan kepartaian di Indonesia secara total sudah membusuk. Bahwa para pejabat bekerja, itu tidak diragukan. Setiap hari rapat, bahkan banyak yang merasa mereka hanya diharuskan rapat saja dan tidak ada lagi waktu untuk melakukan tugas yang diperintahkan. Meski demikian, sense of urgency dan sense of emergency tidak kunjung tampak. Pulang dari luar negeri justru ngurusin album dan nonton film Ayat-Ayat Cinta, sementara banyak bagian di Tanah Air terendam banjir. Di Jawa Timur, banjir melanda sebagian besar provinsi itu selama beberapa bulan. Belum lagi masalah korban Lapindo tak kunjung usai. Demonstrasi demi demonstrasi digelar. Namun, baik para pejabat tinggi maupun tertinggi seakan-akan tidak ambil pusing. Penderitaan rakyat dianggap biasa. Sesudah Perang Dunia II, di China juga amat jelek. Negeri itu dilanda korupsi besar-besaran. Para pejabat kehilangan kepekaan. Mereka menikmati eforia seusai perang, dengan China sebagai salah satu pemenang perang, sejajar dengan Amerika Serikat, Rusia, Inggris, dan Perancis. Banjir demi banjir melanda negeri China, diikuti bencana kelaparan. Di China juga sudah terjadi pembusukan menyeluruh. Kaum Komunis bangkit dan tumbuh subur di bawah pimpinan Mao Tze Dong. Wilayah demi wilayah, kota demi kota, mereka rebut. Akhirnya, pemerintah nasionalis Tiongkok terpaksa lari tunggang langgang menyeberang Selat Formosa dan menetap di Pulau Taiwan atau Formosa hingga kini. Seluruh daratan China dikuasai kaum komunis. Di Kuba, pemerintahan Batista juga mengalami pembusukan secara menyeluruh dari dalam. Rakyat kehilangan kepercayaan. Tampillah Fidel Castro. Wilayah demi wilayah direbut, akhirnya seluruh Kuba jatuh ke tangan pemerintahan komunis di bawah Fidel Castro sejak akhir tahun 1950-an hingga kini. Banyak lagi cerita yang hampir sama, seperti Kaisar Bao Dai di Vietnam yang akhirnya dijatuhkan. Munculnya pemimpin Apa yang terlihat? Di negara-negara yang menderita seperti itu muncul para pemimpin karismatik yang benar-benar pemimpin. Di Filipina juga terjadi pembusukan di bawah pemerintahan Ferdinand Macos. Tidak ada pemimpin seperti Mao Tze Dong dan Castro, tetapi muncul People Power yang melahirkan Corazon Aquino. Di Indonesia, proses pembusukan berjalan dari dalam dan sudah terjadi sejak lama, dimulai dengan korupsi besar-besaran dari pusat hingga daerah. Para gubernur dan bupati menjadi raja. Merekalah yang menguasai sumber daya alam. Dalam UUD Indonesia memang tertera, sumber daya alam digunakan untuk sebesar besarnya kesejahteraan rakyat (Pasal 33 Ayat 3). Jadi, sumber daya alam itu dikuasai negara. Artinya, oleh daerah, oleh gubernur, dan bupati. Mengingat produksi industri kini amat rendah, penghasilan negara juga menciut. Satu-satunya cara untuk mendapatkan pemasukan dana yang penting hanyalah pajak. Pajak digenjot habis habisan. Sebaliknya, di tengah kemiskinan rakyat, apa yang terlihat amat mencolok? Jalan raya penuh sesak dengan mobil mewah. Pada saat-saat tertentu Jakarta dan Bandung macet total oleh mobil pribadi dan motor. Mengapa? Karena transportasi publik tidak ada dan memang tidak disediakan. Di kota-kota besar di negeri orang, termasuk di Amerika Serikat, transportasi publik tersedia. Di Indonesia tidak. Di Indonesia, pemimpin rakyat seperti Mao Tze Dong, Fidel Castro, dan Ahmadinejad dari Iran memang belum muncul ke permukaan, tetapi ada. Karena itu, kaum intelektual dan masyarakat kampus, para profesional, serta kaum praktisi jangan berhenti menyuarakan nurani rakyat dan menerangi rakyat atas segala kebohongan yang ditebar. Itulah kewajiban kaum intelektual, menyuarakan nurani rakyat dan membangunkan the silent majority, yakni massa rakyat yang masih membisu, masih belum berani berbicara, atau masih enggan berbicara. Sebarkan profil-profil seperti Ahmadinejad yang berani tidur di lantai agar rakyat dapat membuat perbandingan. Berikan juga penerangan tentang cara memilih pemimpin jika tiba waktunya. Intinya, jangan memilih nama-nama yang sudah usang, mereka yang jelas terbukti gagal pada masa lalu. Arahkan ke nama-nama baru atau ke pribadi- pribadi yang jelas dan terbukti bersih, yang mempunyai prestasi nyata, dengan nama yang belum ternoda. Pilihlah pemimpin yang berani bertindak dan berani bertanggung jawab atas tindakannya. Jauhi orang yang mengaku pemimpin, tetapi saat gagal atau berbuat salah berkata, "Saya siap mundur jika presiden memerintahkan. " Ini namanya pemimpin tak berprinsip. Menyuarakan nurani Harap diketahui, suatu bangsa akan mendapatkan pemimpin yang "pantas" mereka peroleh. Kaum pencopet akan memilih pencopet yang lebih "besar" untuk memimpin mereka. Manusia kerdil akan memilih pemimpin yang kerdil. A nation will get a leader it deserves. Ini kata-kata singkat dengan makna luas. Di dunia ini, kata-kata itu terbukti kebenarannya. Bagi kebanyakan orang di Indonesia, maknanya masih perlu dijelaskan. Karena itu, tugas kaum intelektual dan anggota masyarakat kampus menerangkan hal-hal tersebut. Biasanya masyarakat masih tersilau oleh hal-hal yang mewah dan meriah, apalagi jika ada musik dangdut. Berbagai penerangan mengenai demokrasi dan pemilihan umum atau pilkada masih amat diperlukan. Di balik semua kegiatan masyarakat itu, harus ada etika yang jelas dan kuat, yang melandasi semua tindakan. Dan, rakyat harus dibuat berani menuntut yang menjadi haknya. Di sinilah tugas dan fungsi kaum intelektual, menyuarakan nurani rakyat.

Kompas Sabtu, 19 April 2008 | 00:35 WIB

MT Zen (Guru Besar ITB)

Musashi dan Petarung Bisnis

Musashi dan Petarung Bisnis

(Disadur dan ditulis ulang dari Tulisan Indra Gunawan)

Dilahirkan di dusun Miyamoto tahun 1584, Musashi sesungguhnya seorang ronin, samurai gelandangan yang tak bertuan. Sejak usia tujuh tahun, ia hidup tanpa orang tua, ibunya sudah menutup mata, sedangkan si ayah tak diketahui keberadaannya. Mungkin juga ia telah ikut meninggal dunia. Musashi yang menumpang tinggal di rumah pamannya, tumbuh menjadi pemuda yang berkemauan
keras dengan sosok tubuh melebihi usianya.

Tanpa diketahui jelas asal-muasalnya, tiba-tiba saja Musashi telah mahir bermain kendo, ilmu pedang khas Jepang. Pada usia 13 tahun, ia sudah menantang duel Arima Kihei, seorang samurai dari aliran Shinto Ryu. Lawannya itu dirobohkan dan dipukulinya dengan tongkat hingga binasah. Kemudian pada usia 16 tahun, ia berkelahi dengan seorang samurai tangguh dan kembali muncul sebagai pemenang. Mulai saat itu, ia memutuskan pergi bertualang mengikuti "Jalan Pedang".

Menurut satu kisah, tak lama kemudian Musashi terlibat dalam perang
habis-habisan antara kubu daimyo (tuan tanah) Ieyasa melawan klan Hideyori dengan para pengikutnya. Tempat pertempuran di padang besar Seki ga Hara.  Konon dalam pertempuran tiga hari itu tercatat 70.000 orang tewas; Musashi sendiri di pihak pasukan yang kalah berhasil meloloskan diri.

Satu versi lebih jauh menyebutkan, Takuan, seorang pendeta Zen dengan kecerdikannya kemudian berhasil "menawan" Musashi di sebuah sel gelap di puri milik yang dipertuan Ikeda. Di sana selama tiga tahun, Musashi ditahan untuk mendalami bertumpuk-tumpuk dan beragam buku. Mulai dari seni perang dari Sun Tzu, buku-buku mengenai Zen hingga ke berjilid-jilid kitab mengenai
sejarah Jepang.

Takuan, guru rohaninya, yang kerap bersikap keras itu menasihati Musashi dengan kata-kata penuh makna:
"Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir
kembali. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu, tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Tapi pandanglah lebih saksama, lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan, pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. Terserah padamu, apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan ataukah kamar penuh cahaya". (lihat novel Musashi, karya
Eiji Yoshikawa dalam terjemahan Tim Kompas).
Ternyata Musashi yang terkenal bandel dan liar itu mau patuh menjalani penggemblengan berat tersebut. Setelah melewati masa pembelajaran tiga tahun, ia dibebaskan dan boleh berkelana lagi. Saat itu usianya 21 tahun.

Dalam kembaranya menjelajahi berbagai provinsi, ia terlibat banyak
pertarungan dengan para master samurai. Bukan sekadar jagoan, tetapi yang dihadapi adalah para jawara sejati. Yang namanya telah kesohor di seantero negeri dan membuat lawan sebelumnya sudah keder. Toh Musashi tak pernah kenal gentar. Satu per satu mereka dihadapi dan dipecundanginya. Tak peduli apakah mereka itu jago permainan pedang, juara tombak kembar ataupun ahli silat gabungan rantai dengan sabit. Dalam berbagai duel itu, Musashi tak selalu memakai pedang sungguhan, kadangkala ia hanya menggunakan
pedang kayu pendek. Tampaknya manusia di belakang senjata itu lebih menentukan dari kecanggihan alat yang dipakai.

Selama kurun usia 13 sampai 29 tahun, Musashi telah terlibat duel tidak kurang dari 60 kali. Sejauh itu, ia senantiasa muncul sebagai pemenang tak terkalahkan. Namanya menjadi legenda dan disebut-sebut dalam banyak kronik, catatan harian dan cerita rakyat dari Tokyo sampai Kyushu.

Sewaktu mendekati umur 30 tahun, Musashi memutuskan berhenti berkelahi. Ia lebih terlibat dalam pendalaman dan perenungan mengenai prinsip-prinsip dan strategi Jalan Semesta (Tao). Menengok kembali jalan kehidupannya ia berujar: "Kemenangan- kemenangan yang lalu bukan disebabkan, karena saya menguasai betul strategi. Mungkin itu lebih banyak oleh kemampuan alami atau Hukum Langit ataupun strategi perguruan lain yang kurang bagus (inferior)".

Setelah berhenti bertarung, siang dan malam Musashi melakukan pencarian ke dalam diri dan baru menemukan Jalan Strateginya pada usia 50 tahun. Ia menyimpulkan, bila kita telah menguasai Tao Strategi, tak ada hal lain yang tak dapat kita pahami. Katanya pula, "Anda akan melihat Tao itu di dalam segala sesuatunya."

Musashi pun secara konsekuen ingin membuktikan ucapannya itu. Setelah berhenti menjadi petarung, ia menekuni seni lukis dan seni patung. Karya-karyanya dengan tinta dan pit dihargai tinggi di Jepang. Ia melukis naga, para dewa, burung, bangau, bunga, pohon dengan taksu atau kekuatan dalam. Buah karyanya dianggap hidup dan indah, hasil dari penyaluran energi batin yang terfokus. Sepertinya kalau inti dasar kehidupan sudah diketahui, kerja yang lain juga dapat dipahami.

Dalam usia 59 tahun ia mengundurkan diri dari kehidupan orang ramai. Ia hidup menyendiri di sebuah gua sembari melakukan permenungan dalam. Kemudian Musashi menuangkan hasil pergumulan batin dan raganya itu dalam sebuah buku berjudul Go Rin No Sho atau Kitab Lima Cincin. Ia menyelesaikan buah kalamnya itu beberapa minggu sebelum ia meninggal dunia (61 tahun).

Kini karyanya itu sudah muncul dalam berbagai versi terjemahan bahasa Inggris: A Book of Five Rings. Di antaranya dialihbahasakan dan diberi bumbu oleh Victor Harris (1974) atau tanpa disertai komentar oleh Thomas Cleary (1993).

Menilik isinya, tampaknya Musashi ingin menyatu-padukan strategi
perang atau tarung tanding (duel) itu dengan Jalan Kehidupan Semesta yang mesti ditapaki, kalau ingin berhasil. Yang ditulis bukan semata-mata teknik atau keterampilan berkelahi, melainkan juga falsafah mengenai bushido (kesatrian), pengenalan diri sendiri dan orang lain, kedisiplinan tinggi dalam berlatih, memahami secara intuitif hal-hal yang tak kasat mata, hati-hati dengan batu sandungan termasuk kerikil dan sebagainya. Jelas falsafah hidup yang melatarbelakangi pandangannya berasal dari Zen, Shinto, dan Konfusianisme.

Dalam tiga dekade terakhir ini yang paling banyak menimba inspirasi dari Kitab Lima Cincin itu adalah para pebisnis dan kaum manajer. Khususnya dari Jepang dan Amerika. Keluasan visi, ketajaman strategi, kejernihan sikap, kepegasan gerak, dan ketepatan waktu dalam bertindak menjadi satu kesatuan yang melebur, membaur tak terpisahkan. Isi buku itu memang mengandung makna yang berlapis-lapis yang menarik dijadikan titik tolak memahami strategi dan
perilaku tokoh lain. Bahkan ada yang menganggap Kitab Lima Cincin itu sebagai jawaban Jepang terhadap konsep MBA Amerika.

Para Pendekar Bisnis Kita

Musashi sebenarnya lebih layak untuk disebut sebagai seorang otodidak. Ia sendiri yang membimbing dirinya untuk mendalami berbagai macam ilmu. Salah satu sumber yang banyak ditimbanya niscaya adalah buah pikiran Sun Tzu.  Dikenal sebagai ahli strategi besar-kalau bukan yang terbesar-Sun Tzu hidup hampir 2000 tahun mendahului Musashi (400-320 tahun sebelum Masehi). (Saya suka berpikir betapa hebatnya orang-orang kuno seperti Lao Tse, Konfusius, Socrates, Sun Tzu, sementara kebanyakan dari kita yang hidup pada milenium ketiga ini cuma segini-gini saja.)

Kalau Musashi mendekati strategi melalui contoh-contoh dari tarung-tanding (duel), Sun Tzu lebih membahasnya lewat skenario peperangan. Ada beberapa kalimat dari kitab Seni Berperang (The Art of War) Sun Tzu yang amat membekas di hati Musashi. Selama tiga tahun dalam masa penempaan, Musashi kerap membacanya secara lantang berulang-ulang dengan alunan bagaikan nyanyian:

"Barangsiapa mengenal seni perang, tak akan serampangan ia dalam
gerakannya. Ia kaya karsa dalam membatasi kemungkinan. Karenanya Sun Tzu berkata, ‘Barangsiapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya, ia senantiasa menang dengan mudah. Barangsiapa mengenal langit dan bumi, ia menang atas segalanya.” "( Musashi, karya Eiji Yoshikawa, alih bahasa Tim Kompas).

Dalam versi terjemahan lain dari buku Sun Tzu, ia dapat berbunyi "Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri dan kemenanganmu tak akan terancam. Kenali medan, kenali iklim, maka kemenanganmu akan lengkap".

Buah kalam Sun Tzu itu sudah terlalu banyak diterjemahkan dan ditafsir, bukan saja oleh ahli militer melainkan juga oleh para pakar manajemen. Misalnya oleh profesor Wee Chow Hou (Sun Tzu, War & Management, Sun Zi Art of War) dan lewat serangkaian buku tipis Khoo Keng-Hor, konsultan dan pembicara spesialis Sun Tzu, oleh Thomas Cleary, Donald Krause, dan sebagainya. Mungkin karena sudah begitu merebaknya ungkapan mashur Sun Tzu itu, untuk orang awam ia sepertinya sudah kehilangan daya getarnya. Betapa betulnya frase itu, tetapi bagi banyak orang yang sudah kerap mendengarnya,
ia dianggap "biasa", "telah dimengerti" atau bahkan "sudah basi". Kecuali bagi pribadi-pribadi seperti Musashi yang mengulangi kata-kata kebenaran tanpa rasa bosan, menghayatinya dengan kegairahan senantiasa dan kemudian menjalankannya dengan konsekuen. Tampaknya ini yang membuat ia menjadi petarung kehidupan yang tak terkalahkan.

Dari berbagai buku, majalah dan harian kerap muncul kisah sukses dari bermacam-macam orang. Sejumlah di antaranya berasal dari para petarung bisnis yang cerita suksesnya kerap bermula dari keadaan papa, melarat hingga menjadi baron kaya-raya (from rags to riches).

Demikian dapat dibaca kisah hidup dari para pebisnis dunia dan juga
sejumlah jago lokal. Bermunculan nama-nama seperti Bill Gates, Sam Walton, Warren Buffet, Matsushita, Soichiro Honda, Akio Morita hingga Sudono Salim, Eka Cipta, Mochtar Riadi, Ciputra, Hari Darmawan, dan sebagainya. Sebelum krisis moneter yang menerpa negeri ini mulai kuartal keempat tahun 1997, hampir setiap hari terbaca di koran, bagaimana beberapa kelompok setiap kali
melakukan investasi baru dalam skala besar. "Duit mereka seperti tak ada habis-habisnya, " demikian pikir saya tanpa mengerti juntrungannya.

Terlepas dari perbedaan besar, saya coba menarik persamaannya. Sama seperti Musashi, mereka rata-rata adalah manusia yang memiliki kemauan keras, energi tinggi dan rasa percaya diri yang tebal. Sebagai wiraswasta, orientasi mereka memang pada nilai ekonomi, sebagaimana kaum politisi coba mengejar tampuk kekuasaan. Atau kelompok seniman berupaya meraih keindahan,
sementara para ilmuwan berkiblat pada nilai kebenaran. Ini kalau kita bicara yang sejatinya, sebab dalam kenyataan, kerap terjadi pencampur-adukkan berbagai nilai-yang dapat menguntungkan atau malah merugikan.

Kemudian lambat-lambat saya mengetahui, mereka itu menerapkan formula ajaib "OPM" (Other People’s Money). Dengan memanfaatkan uang pihak ketiga (investor, pasar modal, bank, obligasi) mereka dapat melesat tinggi bagaikan roket. Dengan kekuatan sendiri, kita mungkin dapat mengangkat benda sampai sejumlah kilo, tetapi dengan pengungkit (leverage) orang dapat melipatgandakan kekuatannya. Sebenarnya, formula OPM bukanlah hal baru, di
Barat orang sudah mengenalnya sejak lama, sejak berdirinya lembaga-lembaga keuangan. Namun, yang istimewa di Indonesia, orang melakukannya dengan nekad, malah dengan metode mark-up (menaikkan perhitungan) , mereka dapat mengeruk seketika keuntungan ekstra.

Kunci suksesnya sebenarnya terletak pada perhitungan yang teliti dan
kepekaan untuk membaca perubahan musim, cuaca dan medan. Sewaktu negeri ini ditimpa krisis moneter, sejumlah pendekar bisnis kita-yang melesat dengan OPM-langsung jatuh bergelimpangan. Selama ini mereka hidup dalam situasi semu yang berkepanjangan. Stabilitas politik, ekonomi, sosial, semuanya serba semu. Ketika momen kebenaran (moment of truth) berupa penyesuaian
nilai tukar rupiah terhadap dolar terjadi, mereka benar-benar
terpelanting. Berhubung lama hidup terbenam dalam kesemuan, sudah hilang kepekaannya dalam menyiasati perubahan "langit" dan "bumi". Maksudnya, perubahan berupa bergeraknya siklus bisnis, struktur pasar, resesi, krisis regional, dan dampak lingkungan sekitarnya.

Sewaktu revolusi "tom yam kun" (krisis moneter) meletus di Muangthai Juni 1997, para pendekar bisnis kita rata-rata hanya duduk anteng. Padahal, ada waktu antisipasi hampir enam bulan sebelum krisis itu menjalar ke Indonesia.  Yang mereka sadari hanya kekuatannya berupa kelicinan dan kepercayaan diri besar ditambah dengan jaringan koneksinya yang luas. Kurang disadari di balik kekuatannya itu melekat sejumlah kelemahan besar. Semboyan yang biasa dianut adalah "semua itu bisa diatur". Rekayasa intens dijalankan dengan mengabaikan berlakunya hukum-hukum alam. Ini jauh berbeda dengan Musashi atau Sun Tzu yang senantiasa siaga terhadap kelemahan diri dan kemungkinan yang terburuk.

Sekalipun demikian, saya tak senantiasa setuju dengan tafsir atas Sun Tzu atau Musashi. Sepertinya analogi perang atau tarung pedang itu tak selalu sejalan dengan persaingan di dunia bisnis. Ada kompetisi, tetapi ada juga koopetisi. Kawan dan lawan dapat saja bertukar tempat tergantung posisinya. Garis yang tegas kadang juga susah ditarik. Misalnya, ada kerja sama dengan mitra bisnis, tetapi sekaligus bukan tak mungkin di dalamnya ada persaingan terselubung. Bahkan dalam satu grup perusahaan, "tendang-menendang" kerap
juga terjadi. Hal ini tak selalu bermula dari itikad ingin bermusuhan,
tetapi lebih karena masing-masing ingin maju mengembangkan diri.
Senantiasa memang ada ketegangan antara dinamika dengan ketertiban.

Walaupun begitu, ada hal-hal menarik yang agaknya dapat dipelajari dari Musashi. Ia seorang yang sederhana, rendah hati yang bermain bersih tanpa kecurangan. Musashi keras hati dalam melatih diri dan dalam menimba ilmu berbagai aliran, karena menyadari ia bukannya tak mungkin terkalahkan. Ia menekankan pentingnya timing (ketepatan waktu) dan ritme dalam segala hal.  Masuk terlalu cepat atau terlalu lambat dalam pertarungan dipandangnya dapat mengundang persoalan tersendiri. Kemudian perubahan yang terjadi di "langit" dan "bumi" bukan saja harus dicermati melainkan mesti pula diadaptasi untuk keselamatan diri. Juga baginya ilmu pengetahuan itu adalah sebuah "lingkaran bulat". Artinya, kalau kita bermula dari titik A, setelah melingkar penuh kita akan kembali ke titik A semula. Apa yang dianggap paling elementer adalah juga pelajaran yang paling penting.

Yang lebih menarik lagi, kemampuannya untuk membaca waktu. Setelah mencapai usia 29 tahun, ia memutuskan untuk berhenti menjadi petarung. Kemudian ia mentransformasikan dirinya menjadi seniman dan pada usia yang lebih lanjut ia memutuskan untuk menjadi pemikir mengenai Jalan Strategi. Keputusannya
untuk pindah jalur dan beralih profesi pada saat yang tepat itu memang memerlukan ketajaman intuisi yang luar biasa. Agaknya, ini juga yang membuat ia menjadi petarung kehidupan yang tak terkalahkan. Ia mengatur dan bukannya diatur oleh waktu kehidupan.

Pemimpin yang Berprinsip

PEMIMPIN YANG BERPRINSIP
Stephen R. Covey

Dalam situasi bisnis sekarang ini tampaknya mudah sekali orang membenarkan cara-cara kasar demi tujuan baik. Bagi mereka, "bisnis adalah bisnis", sedangkan "etika dan prinsip terkadang harus mengalah pada keuntungan".
Selain itu, banyak juga kita lihat para pelaku dan pemimpin bisnis yang
tampak berhasil menumpuk kekayaan, namun di belakang kehidupan mereka tampak kacau dan mengenaskan. Padahal bila kita tinjau, hampir setiap minggu muncul teori manajemen baru, namun tampaknya sedikit sekali yang meninggalkan hasil yang diharapkan. Mengapa demikian?

Menurut Stephen R. Covey, penulis buku terkenal, "Seven Habits of Highly
Effective People", dalam bukunya yang lain "Principle Centered Leadership", hal ini disebabkan mereka tidak lagi berpegang pada prinsip dasar yang berlaku di alam ini. Padahal hukum alam, berdasarkan pada prinsip, berlaku tanpa peduli apakah kita menyadarinya atau tidak. Oleh karena itu semestinya kita meletakkan prinsip-prinsip ini di pusat kehidupan, hubungan, kontrak-kontrak manajemen dan seluruh organisasi bisnis anda.

Covey percaya bahwa kesuksesan kita, baik pribadi maupun organisasi, tidak dapat diraih begitu saja. Kesuksesan harus datang dari "dalam diri" dengan berdasarkan pada apa yang kita pahami dan yakini untuk menjadi prinsip yang tak tergoyahkan. Dengan demikian kepemimpinan yang berprinsip memusatkan kehidupan dan kepemimpinan kita pada prinsip-prinsip utama yang benar.

Artikel ini tidak membahas apa itu prinsip menurut Covey, namun meringkas ciri-ciri pemimpin yang berprinsip. Ciri-ciri dari pemimpin yang mendasarkan tindakannya pada prinsip. Dengan demikian setidaknya kita bisa mengenal bagaimana kepemimpinan yang berpusat pada prinsip itu. Ada delapan ciri-ciri pemimpin yang berprinsip.

1–Mereka terus belajar.

Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka juga membesar. Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin tahu, meningkatkan ketrampilan dan minat baru.

2–Mereka berorientasi pada pelayanan.

Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karier.
Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan
melayani orang lain. Inti kepemimpinan yang berprinsip adalah kesediaan
untuk memikul beban orang lain. Pemimpin yang tak mau memikul beban orang lain akan menemui kegagalan. Tak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, pemimpin harus mau menerima tanggung jawab moral, pelayanan, dan sumbangsih.

3–Mereka memancarkan energi positif.

Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan mempercayai. Mereka memancarkan energi positif yang akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Dengan energi itu mereka selalu tampil sebagai juru damai, penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energi destruktif menjadi positif.

4–Mereka mempercayai orang lain.

Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain
mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.

5–Mereka hidup seimbang.

Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau menolak sama sekali. Meraka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakannya. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak. Sebagai gambaran, mereka tidak gila kerja, tidak fanatik, tidak menjadi budak rencana-rencana. Dengan demikian mereka jujur pada diri sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal yang sejalan berdampingan dengan kegagalan.

6–Mereka melihat hidup sebagai sebuah petualangan.

Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu
sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak mudah dipengaruhi namun fleksibel dalam menghadapi hampir semua hal. Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang berkelimpahan.

7–Mereka sinergistik.

Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan.
Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu, mereka selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif.  Dalam bekerja mereka menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya memberi dan menerima sedikit.

8–Mereka berlatih untuk memperbarui diri.

Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri
secara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula.

(Stephen R. Covey, Principle Centered Leadership)

Global Warming is the Global Warning

SARASEHAN HARI BUMI - PROFAUNA INDONESIA DAN WALHI JATIM - PWEC, 27042008

Bumi Tanpa Huruf "i" (Pupung - Walhi Jatim)

"Tebanglah hutan maka bencanapun akan datang karena langit akan runtuh tanpa penyanggah" (Pepatah Indian)

3 (tiga) kebutuhan manusia terhadap hutan: (1) sumber udara, (2) sumber air, dan (3) energi dan pangan.

Kebutuhan vs pembangunan, contoh kerusakan hutan di Indonesia seluas 6x luas lapangan bola permenitnya atau sama dengan 2,7juta hektar/tahun.  Indonesia merupakan negara pengrusak hutan tercepat di dunia pada tahun 2007/2008.

Air tawar di Bumi ini 1,5–2,5% saja dari total air yang ada di Bumi, sehingga saat ini menjadi komoditi yang cukup mahal dan mendapat julukan "emas biru".  Terbukti semakin hari semakin luas privatisasi dan komersiaalisasi air yang terjadi di Indonesia dan seluruh Bumi.

Manusia adalah bagian dari ekosistem, Pemerintah Kota Malang saat ini merusak ekosistem kota dengan mengalihfungsikan Ruang Terbuka Hijau menjadi Kawasan Bisnis.  Setelah Kampus APP berubah menjadi Matos, Stadionpun menjadi MOG, Taman Kunir jadi Balai Desa, dan APP Tanjung pun akan menjadi Resort atas nama Bakrie Resort yang akan dibangun oleh Bakrie Resort.  Tanah Malang dijual ke Investor2 besar dari Jakarta.  Nirwana Resort akan dibangun 290 unit rumah mewah dengan harga minimal 900 juta perunit, 1 hotel berbintang 4, kolam renang, dan pusat perbelanjaan Carefour.

Pencemaran, (1) Coban Banger (Sungai Brantas) di Kota Lama sebagai hasil dari PT. Kasin (pabrik penyamakan kulit di Cipto Mulyo), (2) Pencemaran "fenol" oleh perusahaan kertas di Malang terhadap Bendungan Karangkates yang membunuh banyak ikan, (3) Peradilan lingkungan yang selalu gagal di Newmont dan Lapindo (ternyata melawan advokat perusahaan yang merupakan teman2 lama dan bahkan mantan aktivis Walhi).

Global warning be a global warming, disebabkan oleh emisi bahan bakar fosil sehingga terjadi efek rumah kaca yang semakin pekat sehingga panas matahari yang dipantulkan ke udara terhambat dan kembali ke Bumi.  Akibatnya suhu udara di Bumi semakin panas, terjadi perubahan iklim, dan gletser di kutub mencair.

Mencegah global warming, (1) mencegah karbon dioksida terlepas ke atmosfer dan disimpan (sequestration) dengan menanam pohon, (2) mengurangi produksi gas rumah kaca.

Perencanaan kebijakan, "Think critically and act locally".  Sebagai contoh, di Filipina ada gugatan "minor oposa", gugatan dengan mengatasnamakan generasi masa depan.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Satwa Liar (Rozeq - ProFauna Indonesia)

Perubahan cuaca akan mengancam kepunahan 300 spesies flora dan fauna.  Kenaikan suhu 1,5–2,5 derajat Celcius akan memusnahkan 20%–30% flora dan fauna yang ada di muka Bumi.  Kepunahan pertama kali terjadi pada satwa yang hidup pada ekosistem es seperti beruang kutub, memengaruhi migrasi burung dan mamalia, naiknya permukaan air laut yang akan mengakibatkan terumbu karang mengalami bleaching (pemutihan atau mati) dan hancurnya hutan bakau, badai menjadi lebih sering terjadi juga banjir, 80% spesies laut terpengaruh karena jumlah plankton yang semakin sedikit.  Hal yang paling mengkawatirkan adalah potensi konflik antara satwa dengan manusia untuk berebut sumber makanan.

Diperkirakan pada tahun 2100, permukaan air laut akan naik 0,18–0,58M sebagai akibat pencairan es. Akibatnya hutan bakau, lahan basah, dan pantai akan hilang dan diperkirakan 1.000 pulau2 kecil di Indonesia akan hilang.  Hilangnya pantai juga berarti berkurangnya pendaratan penyu untuk bertelur dan juga terjadi perubahan suhu pantai sehingga probabilitas hidup menjadi turun.  Dalam kondisi normal, probabilitas hidup telur penyu menjadi tukik dan penyu dewasa adalah 1:1.000, entah nanti menjadi berapa.

Refleksi

Sampai kapan kita berdiam diri menghadapi ancaman besar yang ada di depan mata kita? Akankah kita malah menjadi bagian dari perusak bumi ini?  Semoga kita menjadi anak2 Bumi yang mencintai sang Ibu Bumi ………..